Pria Muda atau Suami Yang Sering Mengeluh Belajarlah dari Bapak Ini

 “ Dik, saya izin pulang dulu ya?”

Sapaan itu terdengar setiap sore hari menjelang magrib. Tiada lain tiada bukan, itu adalah sapaan seorang tukang becak yang juga bekerja sebagai tukang parkir di daerah tempat saya bekerja. Beliau adalah Pak Sakat. Selain berprofesi sebagai tukang becak di malam harinya, Pak Sakat juga menjadi juru Parkir tatkala siang Hari.

Kehidupan beliau sungguh sangat sederhana, ujian yang bertubi-tubi tak membuat senyum di wajahnya sirna begitu saja, beliau tetap tersenyum walaupun dunia seakan begitu kejam terhadapnya. Tiap hari Pak Sakat harus bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan beberapa keperluan setiap hari anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kenapa bukan Istri beliau yang menyiapkan?, karena semenjak melahirkan anak pertamanya itu, istrinya terserang penyakit stroke, dan sampai sekarang belum sembuh, istrinya hanya bisa terbaring di rumahnya.

Semua pekerjaan rumah di lakoni oleh pak Sakat, memasak untuk sarapan, mencuci piring, mencuci pakaian, bersih-bersih rumah, semua beliau jalankan seorang diri. Selepas pekerjaan di rumah beres semua, Pak Sakat Mulai berangkat bekerja sekitar pukul 10.00, jarak rumah dengan tempat kerjanya menjadi seorang juru parkir lumayan jauh, sekitar satu jam beliau menempuhnya, dengan menaiki becaknya. Pulang dari memarkir menjelang magrib, dan selepas isya, beliau harus menuju terminal, untuk mengais rizki kembali sebagai tukang becak. Penghasilannya sebagai tukang parkir masih belum mencukupi kebutuhannya sehari-hari, mengingat istrinya juga sedang sakit di rumah sana. Subhanallah, di siang hari dengan aktivitas yang begitu padat nya, malam hari pun masih tetap bekerja, Suami yang luar biasa.

Saya sering ngobrol dan berbincang dengan beliau, menayakan kehidupannya beliau dan keluarga. Sungguh bagai mendapat sebuah tamparan, bahwa hidup ini memang butuh perjuangan, harus menjalani hidup seperti apa adanya sesuai yang dianugerahkan Allah kepada kita. Beliau sama sekali tidak pernah mengeluh walau hidupnya sangat menderita dan susah.

Ada sedikit kisah berhikmah yang bisa kita ambil dari seorang Pak Sakat. Suatu ketika, beliau sedang memarkir kendaraan di siang hari. Tiba-tiba beliau menemukan uang 50ribuan di dekat kendaraan yang diparkir. Beliau ambil uang itu dan kemudian mencari-cari siapa yang telah menjatuhkannya. Di beritahukannya uang itu pada saya dan yang lainnya, menanyakan siapa yang telah kehilangan uang itu. Subhanallah, di saat sangat terhimpit dan membutuhkan uang, tetap saja beliau tidak mau mengambil uang yang bukan miliknya. Padahal uang itu tidak ada yang memiliki harusnya sudah menjadi milik beliau. Akhirnya uang itu beliau masukan di kotak amal yang ada di toko.

Suatu saat juga ada dompet dan bahkan handphone milik seseorang jatuh, tetapi beliau tetap berusaha mencari pemiliknya dan mengembalikannya. Suatu pelajaran yang wajib kita petik hikmahnya, bahwa jangan sampai mengambil sesuatu yang bukan milik kita. Beliau tidak ingin harta yang bukan miliknya itu mengganggu ketentraman dan ketengan dalam hidupnya.

Subhanallah, saat saya berpikir betapa susahnya menjadi seorang pak Sakat, ternyata beliau merasa bahagia dengan hidupnya. Memang benar adanya bahwa “ Ujian dan kesulitan dalam hidup tak menghalangi  seseorang  untuk mendapatkan dan merasakan kebahagiaan”.

Semoga, Allah senantiasa menjaga dan memberi kebaikan untuk pak Sakat dan keluarga.

Yang diatas adalah poto pak sakat dan anaknya saat beliau sedang memarkir. Saya juga sering berbicara dan bercanda dengan anaknya yang kadang ikut ayahnya bekerja, namanya adalah Arga, anak kecil nan lucu itu bercita-cita menjadi polisi atau tentara. Cita-cita dari seorang anak nan lugu yang tak mudah, tapi tetap semangat nak, doaku untukmu, ayahmu, dan keluargamu.

Advertisements

Nikmat Indera Mata yang Luar Biasa

Gambar

Masih berpikir hidup kita sengsara, susah, penuh dengan cobaan?, betapa berdosanya kita jika kita berpikir seperti itu, padahal nikmat-Nya begitu melimpah, Dia Maha Kaya, Maha Memberi kepada setiap hamba-hambanya. Baik itu hamba yang beriman ataupun hamba yang ingkar. Semoga kita senantiasa tergolong kedalam hamba yang senantiasa menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Hidup itu Indah. Betapa indahnya kehidupan kita di dunia ini dengan berbagai keelokannya. Dan keindahan dunia itu hanya dapat kita rasakan dan nikmati dengan karunia Indera yang diberikan kepada kita. Indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, peraba, dan indera untuk bicara, semuanya berpadu begitu harmonis hingga kita dinobatkan sebagai makhluk yang sempurna diantara makhluk lain ciptaan-Nya.

Sudah sepatutnya kita mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya kepada kita berupa nikmat Indera yang luar biasa itu. Maka nikmat manakah yang kita dustakan?

• Nikmat Mata untuk Melihat

Suatu ketika saya pergi ke salah satu kota di Indonesia yang terkenal akan ikonnya sebangai Kota Budaya. Saat saya berada di sebuah cafe mini, saya bertemu dengan seorang pria muda, sendirian berjalan kaki menyisir jalanan kota yang begitu ramai dan padat. Dari kejauhan, sesekali saya perhatikan pria itu tersandung-sandung saat berjalan menuju ke arah saya. Terkadang bunyi klakson kendaraan pengguna jalan begitu nyaring di telinga ketika pria itu melintasi jalan. Pria yang selalu tersenyum itu pun kini tepat berada di cafe memesan minuman kemudian duduk di tempat yang telah di sediakan. Tak lama ia kemudian mengeluarkan barang yang ada di dalam tasnya. Sebuah laptop pun ia keluarkan dari dalam tasnya. Subhanallah, saya begitu tercengang ketika pria muda ini dengan mahirnya mengotak-atik gadgetnya itu padahal berjalan saja ia kadang terseok-seok karena dia tunanetra alias tidak dapat melihat. Bagaimana dia belajar kalau melihat layar monitornya saja tidak bisa, begitu canggihnya, sampai-sampai yang bisa melihat saja malah ‘gaptek’. Malu.

Di lain tempat, di serambi masjid, saya juga di beri kesempatan bertemu dengan sepasang suami istri dengan satu anak . Begitu harmonis nya pasangan itu, begitu bahagianya mereka dengan canda tawa terpaut di wajah mereka, begitu bahagianya mereka akan karunia-Nya. Betapa nikmatnya mereka mampu menaati tuhannya manusia yang maha segalanya. Begitu sabarnya sang istri dalam menghormati dan menaati suaminya yang ternyata mendapat ujian berupa tidak dapat melihat alias tunanetra. Ketika hendak pergi sang istrilah yang mengendarai sepeda motornya menuju tempat tujuan. Duh, melihat yang seperti ini membuat diri merenung dan merenung.

Masya Allah, bukahkah seharusnya kejadian itu semuanya berhikmah dan layak kita ambil pelajaran. Menyaksikan seorang pemuda dan seorang suami yang begitu bahagianya dengan kehidupannya dalam kegelapan dan tidak dapat melihat keindahan, seharusnyua menjadikan kita introspeksi diri sejauh mana rasa syukur kita akan nikmat indera mata yang diberikan oleh-Nya, juga untuk apa kita gunakan nikmat indera yang begitu luar biasa itu.

Coba lah sesekali tengok orang-orang sekeliling kita yang juga mempunyai nasib yang sama, yaitu hidup dalam kegelapan tanpa sinar dan keindahan. Atau sesekali berkunjung ke sekolah luar biasa yang banyak anak-anak tunanetra disana. Bagaimana jika kita dalam posisi mereka, bukankah kita tak menginginkannya.

Ketika kita berlibur bersama keluarga, menghentikan aktivitas dan kesibukan sejenak untuk berwisata alam bersama keluarga ke suatu tempat. Maka kita akan begitu bahagia ketika melihat keindahan alam dan ciptaan-Nya, tak henti-hentinya lisan kita mengucap tasbih akan nikmat keindahan yang di karuniakan kepada kita. Tapi bagaimakah seandainya kita mempunyai Indera mata yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya alias buta?

Cobalah rasakan derita mereka, ketika berada di sebuah tempat wisata dengan keindahan alamnya, pantai misalnya, sesekali pejamkan mata kita, atau tutup dengan kain yang tidak tembus pandang. Apa yang ada disana, tidak ada pemandangan pantai yang indah,tidak ada wajah ceria keluarga,tidak ada wisata-wisata yang elok, yang ada hanya kegelapan dan bayang-bayang hitam.

Mari kita syukuri nikmat Indera mata yang sungguh luar biasa itu, sejauh mana kita berjalan tanpa mensyukuri sepasang bola mata yang luar biasa eloknya. Sejauh mana kita gunakan keduanya dan untuk apa kita pakai keduanya di dunia ini. Apakah untuk melihat yang dihalalkan oleh-Nya, ataukah untuk melihat yang seharusnya tidak berhak di lihat oleh keduanya. Allah maha tahu setiap apa yang dikerjakan hamba-hambanya.

Prof.Dr.H.heppy setya prima S.pt.m.sc

A topnotch WordPress.com site

Kehadiran Anda Sebuah Kehormatan Bagi Saya

Menebar Inspirasi, Membangun Peradaban

안녕하세요~~~

Mari berbagi lewat tulisan^^

Ketika Kata Mengikat Makna

Merangkai kata, mencari keindahan hakikat makna...

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

fluoresensi

Keinginan itu pasti terwujud, entah 1 tahun, 2 tahun hingga puluhan tahun kemudian. Bersabarlah #cumanmasalahwaktu

Blog Prita

Campuran kenangan, buah pikir, dan hari-hari

Al Ustadz Achmad Rofi'i Asy Syirbuni

Blog resmi Al Ustadz Achmad Rofi'i Asy Syirbuni

feriyadiramen

やってみる  Ayo coba!

Mubarok01's Weblog

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

KAVKAZ CLOTHING

It's not about fashion or necessity, its Identity!

akh ardhi

sebuah catatan nurani...

Blog Pribadi Agus Supriyadi

"ana hanyalah setitik embun dijalan da'wah"

Aria Turns

Ada yang mau baca blog mengenai matematika, gak ya...??

Nabih Ibrahim Bawazir

Just another WordPress.com site

Dunia Matematika

Ternyata Matematika itu Mudah!