(CERPEN) Anak Rusa Mencari Kejayaan

 

Di sebuah daerah pegunungan di salah satu benua, hiduplah sebuah keluarga Rusa. Suatu ketika Ayah dari dua anak rusa itu memerintahkan anak-anaknya untuk menjemput ‘kejayaan’nya masing-masing dengan memb

eri mereka tugas untuk menaiki sebuah gunung batu nan terjal dan harus mencapai puncaknya. Ayah rusa mengingatkan kepada anak-anaknya bahwa jalan yang akan ditempuh mereka dalam mendaki gunung tidaklah mudah, ada rintangan yang harus mereka lewati, baik rintangan dari luar maupun rintangan dari dalam diri mereka sendiri, dan barangsiapa yang berhasil mencapai puncaknya, maka ia telah mendapat ‘kejayaan’ dan pemenang yang sejati.

Kedua anak rusa itu pun segera melaksanakan amanat yang diberikan ayahnya kepada mereka untuk kemudian menyelesaikannya. Ayah rusa adalah ayah yang bijaksana, ia tidak pernah pilih kasih terhadap anak-anaknya. Ia memberikan tugas yang sama kepada kedua anaknya. Padahal kedua anak rusa itu memiliki kondisi fisik yang jauh berbeda.

Anak rusa yang pertama memiliki tubuh yang kuat, fisik yang sehat, dan terlatih untuk hal-hal ekstrim termasuk soal pendakian gunung. Sedangkan anak rusa yang kedua memiliki tubuh yang lemah, fisik yang sebagian tidak lengkap, dan kaki yang salah satunya lumpuh. Ia lebih sering berada di rumah membantu kegiatan di rumah, dan jarang melakukan hal-hal ekstrim seperti yang di lakukan rusa pertama.

Kedua anak rusa itu segera berangkat menuju apa yang di perintahkan kepada keduanya, yaitu menjemput ‘kejayaan’. Mereka bergegas berangkat ke medan pendakian. Keduanya berangkat bersama untuk menyelesaikan tugas bersama.

Anak rusa pertama dengan sangat kencang berlari di start awal, namun anak rusa kedua yang juga dengan semangat menggebu, segera mengikuti langkah rusa pertama dengan jalan tertatih-tatih dan terseok-seok karena baru kali ini perjalanan yang akan ia lakukan. Sesampainya di medan yang akan mereka daki, di lembah gunung banyak pemandangan indah di sekitarnya. Rusa pertama yang telah sampai terlebih dahulu di medan yang akan mereka daki begitu takjub dengan keindahannya, ada batu-batu besar nan cantik, air yang mengalir, dan ada beberapa makanan yang enak untuk dimakan. Anak rusa kedua baru sampai beberapa saat setelah anak rusa pertama, ia pun segera menyapa rusa pertama,

“ Hai, kakakku apa yang kau lakukan disini, kenapa kau tidak segera menyelesaikan tugas kita dengan langkahmu yang sangat cepat itu?”, tanya rusa kedua.

“ Hai adikku yang lumpuh, tugas ini terlalu mudah bagiku, aku sudah pasti bisa mencapai puncaknya dengan mudah nanti, aku ingin bermain-main di sini dulu, tempat ini sangat asyik”, jawab rusa pertama dengan angkuhnya.

“ Tapi, setelah saya lihat gunung batu ini medannya sangat sulit, berbeda dengan gunung berbatu yang lainnya,apakah kamu bisa menyelesaikannya?”, sanggah rusa kedua.

“ Ah, kau tidak tahu apa-apa soal pendakian, jangan banyak bicara, coba lah kau daki sendiri gunung itu, pastilah kau tidak mungkin bisa melakukannya, karena kau lumpuh”, sindir rusa pertama itu.

“ Baiklah, kakakku, aku akan memulainya, tapi ingatlah pesan ayah kita, bahwa perjuangan mencapai puncak gunung ini tidaklah mudah, mari kita selesaikan segera”, rusa kedua mengingatkan.

“ Oke, kita lihat saja nanti”, sahut rusa pertama.

Mendengar kata-kata rusa pertama, kakaknya sendiri, rusa kedua pun terlihat sangat sedih, ia begitu kecewa dengan sikap kakaknya padanya. Tapi dia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia bisa menyelesaikan tugas dan mendapatkan ‘kejayaan’ itu. Seperti yang di katakan ayahnya bahwa medan ini sangat sulit dan banyak rintangan, baik dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri. Walapun begitu, rusa kedua ini tetap yakin dan berharap bahwa ia bisa mendaki gunung batu itu.

Tak hanya harapan dan keyakinan semata, maka rusa kedua yang lumpuh ini pun segera bergegas memulai pendakian. Satu dua tiga kali ia memulai, tiba-tiba jatuh. Memulai lagi dan jatuh lagi. Melihat kondisi fisik rusa kedua ini memang terlihat tidak memungkinkan untuk bisa melakukan pendakian. Di saat rusa kedua ini beberapa kali gagal memulai pendakian, di kejauhan rusa pertama tampak tertawa-tawa melihat adiknya begitu susah payah mendakinya. Ia masih asyik bermain-main dan malas-malasan sehingga belum memulai pendakian, ia seakan terpesona dengan apa yang ada dilembah itu, dan ia menganggap bahwa sudah pasti dirinya akan ‘bernasib baik’ tidak sama halnya dengan adiknya, yakni mampu mencapai puncaknya.

Rusa kedua tidak menyerah begitu saja, walaupun berpuluh-puluh kali ia jatuh bangun ia tetap yakin bisa mendaki gunung berbatu itu, karena ia masih punya harapan, harapan untuk menyelesaikan tugas yang diberikannya untuk mendapatkan ‘kejayaan’ seperti yang ayahnya ceritakan.

Dan setelah terseok-seok untuk kesekian kali, akhirnya ia mampu menaiki setengah dari pendakian ke gunung berbatu itu. Dan tampak dari ketinggian ia berteriak,

“ Hai, kakakku, aku sudah sampai setengah perjalanan, ayo sekarang giliranmu, langkahkan kakiku yang sangat cepat itu, mari kita mencapai puncaknya bersama-sama!”.

Mendengar itu rusa pertama pun kaget, merasa tidak percaya bahwa adiknya yang lumpuh itu mampu menaiki separuhnya. Tak lama berselang, karena merasa di saingi oleh adiknya, rusa pertama itu pun berlari dengan kencang dan mulai mendaki gunung berbatu itu. Saat hendak ingin mendaki, tiba-tiba “ Brukkkks,..”, rusa pertama itu terjatuh, dan tertimpa bebatuan, kakinya tergencit dan akhirnya ia lumpuh tidak mampu berjalan. Rusa kedua akhirnya berhasil mencapai puncaknya walau dengan terseok-seok saat mendaki. Kini ia benar-benar menjadi pemenang sejati yang berhasil menyelesaikan tugas dan mendapat ‘kejayaan’ itu.

———————————————————————————————————————————–

PESAN :
“KEJAYAAN tak pernah datang pada orang yang berjalan dengan kemalasan dan kosong hatinya. Masihkah keangkuhan akan nasib baik tetap terpatri, sedangkan gerbang lepas kian menyapa?. Apakah keangkuhan itu adalah darah yang sudah menyatu dengan tubuh?, ataukah cahaya tidak akan pernah menembus keangkuhan itu?. Berpikirlah karena hidup dan waktu ini pasti berlalu, ada Dia yang Maha menentukan. Berbenahlah, yakinlah harapan itu masih ada,”

Anak Ubi VS Anak Burger

Image

Ubi VS Burger disini tak jauh berbeda dengan arti singkong vs keju yang biasa orang ceritakan. Tapi jika diartikan dengan seksama, maka kita akan mendapati arti bahwa anak Ubi tak selamanya anak kampung atau anak miskin, dan anak Burger tak semuanya anak Kota atau anak Kaya. Di zaman sekarang ini, anak Ubi bertebaran di kota-kota, anak Burger pun kian marak di kampung-kampung.

Anak Ubi. Ubi, ya begitulah Ubi, makanan yang terkesan begitu sederhana. Makanan yang biasa di makan oleh Anak-anak kampung dan anak-anak sederhana. Anak Ubi ini bertebaran di mana-mana, anak Ubi terlahir dari keluarga yang sederhana, maka tak salah jika dalam kehidupannya dihiasi dengan berbagai masalah yang begitu pelik dan penuh cerita. Kerasnya hidup anak Ubi memang mengundang perhatian bagi kita sesama insan ciptaan-Nya.

Anak Burger. Burger, makanan yang begitu istimewa, makanan yang terbuat dari bahan-bahan yang beraneka ragam dan tentu saja mahal harganya. Makanan ini biasa di makan oleh Anak-anak kota dan anak-anak dari orang tua yang berada. Anak Burger terlahir di keluarga yang begitu bahagia dengan gemerlap nikmat yang diberikan tuhannya manusia. Maka memang benar juga, kehidupan anak Burger lebih dipenuhi dengan kenikmatan dan kasih sayang.

Di berbagai tempat saya menemui anak-anak seperti itu dengan berbagai macam perbedaannya.

Jika Anak Ubi yang pernah saya temui (kira-kira berumur 6 tahun )berkata, “ Aku harus berjuang keras agar orang tuaku tidak susah terus”, maka saya juga pernah menemui Anak Burger ( dengan umur yang sama) berkata, “ Kau bidadari, jatuh dari Surga, sampai hatiku, ea ea“.

Saya pernah bertemu dengan Anak Ubi yang sepulang sekolah harus berjalan kaki berpuluh kilometer dan setelah sampai rumah mencari kayu bakar untuk keperluan memasak, sedangkan ada anak Burger sepulang sekolah menaiki kendaran nyaman dan setelah sampai rumah harus mencari-cari tempat bermain yang menyenangkan untuk mereka singgahi.

Saya pernah bertemu dengan anak ubi yang tak pernah mendapatkan uang saku untuk jajan, dan selalu meminjam buku pelajaran teman sebangkunya karena tak mampu membeli buku-buku pelajaran, sedangkan ada anak-anak burger yang dengan rakusnya menghabiskan banyak uang jajan setiap kali istirahat dan pulang sekolah.

Saya pernah bertemu dengan anak ubi yang menangis karena tidak mendapatkan ijazah karena belum lunas pembayaran sekolahnya, sedangkan ada anak burger menangis karena kelulusan dan bahagia dengan ijazah yang diterimanya.

Saya pernah bertemu dengan Anak Ubi yang sedih dan haru ketika di terima di Universitas nomor satu di negeri ini dengan dibebaskan segala biaya kuliah sampai lulus, namun tidak jadi diambil karena orang tua tak mengizinkannya dengan alasan tak sanggup membiayai kehidupan sehari-hari anaknya nanti, sedangkan ada anak burger yang begitu bangganya diterima di universitas tidak terlalu favorit namun menguras kantong orang tuanya dengan biaya kuliah yang begitu mahalnya. ( Padahal pemuda yang sudah  mempunyai umur lebih dari 20 tahun itu harusnya malu karena masih meminta uang kepada kedua orang tua nya).

Memang berbeda antara keduanya, anak Ubi dituntut untuk lebih keras menghadapi hidupnya, anak ubi harus berpikir keras untuk menghadapi setiap coba, sedangkan anak Burger lebih mudah dalam melangkah. Bak membuat makanan, anak ubi harus memikirkan bagaimana membuat makanan ubi yang sederhana itu menjadi makanan yang enak dissantap, sedangkan anak burger hanya tinggal menyantapnya. Dan kita sering mendapati bahwa anak Ubi lebih tegar dalam menjalankan kehidupannya, ia telah merasakan betapa sakitnya ditempa dengan berbagai ujian, sehingga sewaktu-waktu jika mendapat ujian lagi, anak Ubi bisa lebih arif dalam menghadapinya. Berbeda dengan anak burger yang sebelumnya dalam kemudahan, jika suatu saat ia ditempa ujian yang menyulitkan maka ia akan merasa sedih bukan main,mungkin juga ia akan merasakan putus asa yang sangat besar, karena ia belum pernah merasakan kepedihan itu sebelumnya.

Tak selamanya anak ubi adalah anak ubi dan anak burger adalah anak burger. Maka marilah sedikit belajar dengan anak ubi dan anak burger ini. Barangkali memang benar bahwa semuanya butuh perjuangan, jangan biarkan anak-anak kita menjadi anak yang tak pernah ditempa, jangan biarkan anak-anak menjadi manja dan malas berusaha. Bukankah nikmatnya perjuangan adalah karena tetes peluh keringat kita sendiri. Ajarkan kepada mereka betapa nikmatnya sebuah perjuangan, betapa sakitnya dalam penderitaan, dan betapa bahagianya menghadapi sebuah kemenangan.

Nikmat Indera Mata yang Luar Biasa

Gambar

Masih berpikir hidup kita sengsara, susah, penuh dengan cobaan?, betapa berdosanya kita jika kita berpikir seperti itu, padahal nikmat-Nya begitu melimpah, Dia Maha Kaya, Maha Memberi kepada setiap hamba-hambanya. Baik itu hamba yang beriman ataupun hamba yang ingkar. Semoga kita senantiasa tergolong kedalam hamba yang senantiasa menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Hidup itu Indah. Betapa indahnya kehidupan kita di dunia ini dengan berbagai keelokannya. Dan keindahan dunia itu hanya dapat kita rasakan dan nikmati dengan karunia Indera yang diberikan kepada kita. Indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, peraba, dan indera untuk bicara, semuanya berpadu begitu harmonis hingga kita dinobatkan sebagai makhluk yang sempurna diantara makhluk lain ciptaan-Nya.

Sudah sepatutnya kita mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya kepada kita berupa nikmat Indera yang luar biasa itu. Maka nikmat manakah yang kita dustakan?

• Nikmat Mata untuk Melihat

Suatu ketika saya pergi ke salah satu kota di Indonesia yang terkenal akan ikonnya sebangai Kota Budaya. Saat saya berada di sebuah cafe mini, saya bertemu dengan seorang pria muda, sendirian berjalan kaki menyisir jalanan kota yang begitu ramai dan padat. Dari kejauhan, sesekali saya perhatikan pria itu tersandung-sandung saat berjalan menuju ke arah saya. Terkadang bunyi klakson kendaraan pengguna jalan begitu nyaring di telinga ketika pria itu melintasi jalan. Pria yang selalu tersenyum itu pun kini tepat berada di cafe memesan minuman kemudian duduk di tempat yang telah di sediakan. Tak lama ia kemudian mengeluarkan barang yang ada di dalam tasnya. Sebuah laptop pun ia keluarkan dari dalam tasnya. Subhanallah, saya begitu tercengang ketika pria muda ini dengan mahirnya mengotak-atik gadgetnya itu padahal berjalan saja ia kadang terseok-seok karena dia tunanetra alias tidak dapat melihat. Bagaimana dia belajar kalau melihat layar monitornya saja tidak bisa, begitu canggihnya, sampai-sampai yang bisa melihat saja malah ‘gaptek’. Malu.

Di lain tempat, di serambi masjid, saya juga di beri kesempatan bertemu dengan sepasang suami istri dengan satu anak . Begitu harmonis nya pasangan itu, begitu bahagianya mereka dengan canda tawa terpaut di wajah mereka, begitu bahagianya mereka akan karunia-Nya. Betapa nikmatnya mereka mampu menaati tuhannya manusia yang maha segalanya. Begitu sabarnya sang istri dalam menghormati dan menaati suaminya yang ternyata mendapat ujian berupa tidak dapat melihat alias tunanetra. Ketika hendak pergi sang istrilah yang mengendarai sepeda motornya menuju tempat tujuan. Duh, melihat yang seperti ini membuat diri merenung dan merenung.

Masya Allah, bukahkah seharusnya kejadian itu semuanya berhikmah dan layak kita ambil pelajaran. Menyaksikan seorang pemuda dan seorang suami yang begitu bahagianya dengan kehidupannya dalam kegelapan dan tidak dapat melihat keindahan, seharusnyua menjadikan kita introspeksi diri sejauh mana rasa syukur kita akan nikmat indera mata yang diberikan oleh-Nya, juga untuk apa kita gunakan nikmat indera yang begitu luar biasa itu.

Coba lah sesekali tengok orang-orang sekeliling kita yang juga mempunyai nasib yang sama, yaitu hidup dalam kegelapan tanpa sinar dan keindahan. Atau sesekali berkunjung ke sekolah luar biasa yang banyak anak-anak tunanetra disana. Bagaimana jika kita dalam posisi mereka, bukankah kita tak menginginkannya.

Ketika kita berlibur bersama keluarga, menghentikan aktivitas dan kesibukan sejenak untuk berwisata alam bersama keluarga ke suatu tempat. Maka kita akan begitu bahagia ketika melihat keindahan alam dan ciptaan-Nya, tak henti-hentinya lisan kita mengucap tasbih akan nikmat keindahan yang di karuniakan kepada kita. Tapi bagaimakah seandainya kita mempunyai Indera mata yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya alias buta?

Cobalah rasakan derita mereka, ketika berada di sebuah tempat wisata dengan keindahan alamnya, pantai misalnya, sesekali pejamkan mata kita, atau tutup dengan kain yang tidak tembus pandang. Apa yang ada disana, tidak ada pemandangan pantai yang indah,tidak ada wajah ceria keluarga,tidak ada wisata-wisata yang elok, yang ada hanya kegelapan dan bayang-bayang hitam.

Mari kita syukuri nikmat Indera mata yang sungguh luar biasa itu, sejauh mana kita berjalan tanpa mensyukuri sepasang bola mata yang luar biasa eloknya. Sejauh mana kita gunakan keduanya dan untuk apa kita pakai keduanya di dunia ini. Apakah untuk melihat yang dihalalkan oleh-Nya, ataukah untuk melihat yang seharusnya tidak berhak di lihat oleh keduanya. Allah maha tahu setiap apa yang dikerjakan hamba-hambanya.

Nasehat dari Sang Guru

Selalu terngiang-ngiang nasehat itu….hiks

Tetap istiqomah ya, jangan takut menatap masa depan, khusnudzon akan hari depan dengan keyakinan yang kita rintis hari ini, jangan lupa sedikit sedekah dan dhuha untuk meninggikan predikat kita di sisi Allah

Image

Samsung Continuum With Extras Screen “Ticker”

Samsung Continuum, variant S Galaxy with double screen was officially released. There is a uniqueness Samsung Continuum that does not exist in other Android phones, an extra screen, called Ticker.
This phone is considered synonymous with Samsung Fascinate, mobile variant of the other S Galaxy which also sold Verizon. There are dedicated camera button on the Continuum. Just unfortunately, there is no front camera.

Read more of this post

HTC Desire HD Versus EVO 4G

You’ve seen how HTC’s latest Android flagship stacks up against its Windows Phone 7 sibling, the HD7. But how does it fare against the original Android giant, Sprint’s EVO 4G? The devices share common displays (4.3-inch WVGA) and cameras (8 megapixel with dual LED flash) — but they use different radios (HSPA+ versus CDMA / WiMAX) and processors (first-generation Snapdragon in the EVO, second-gen in the Desire). In fact, the two phones actually have very different personalities when you consider the Desire HD’s aluminum unibody case and the EVO 4G’s HDMI output and kickstand. Take a look at these mighty beasts side-by-side in our gallery — along with a video after the break!

Note: In the video we mention that the Desire HD features a front facing camera. This is incorrect.

http://www.viddler.com/simple/b8f20a98/

Sorce : Engadget

The PlayStation Phone for Gamers


What will happen if mobile phones coupled with the playstation? Of course it would be an interesting gadget is not it? And this is proven by the presence of the PlayStation Phone which has been informed since last August. The presence of a Playstation Phone is an integration that is not only aimed at gamers, but also to users who can entertain themselves while killing time. Playstation Phone will come with Android 3.0 (Gingerbread) with a 1GHz processor and Qualcomm MSM8655 Memory of 512MB of RAM and 1GB ROM. For user comfort while doing the activity of play, Playstation Phone comes with a screen size from 3.7 to 4.1 inches. Cursor button on the left and right who are on the PSP, remain attached to the Playstation Phone, and opened the sliding (sliding).

The presence of Playstation Phone brings its own charm when the various brands out smart phone until the Android-based tablet. Can the Playstation Phone Android phone market seized or gamer? Let’s see his presence, because the Playstation Phone is still in prototype form, and its presence is still not clear, whether it will appear late this year or in 2011.

 

Source : ENGADGET

Prof.Dr.H.heppy setya prima S.pt.m.sc

A topnotch WordPress.com site

Kehadiran Anda Sebuah Kehormatan Bagi Saya

Menebar Inspirasi, Membangun Peradaban

안녕하세요~~~

Mari berbagi lewat tulisan^^

Ketika Kata Mengikat Makna

Merangkai kata, mencari keindahan hakikat makna...

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

fluoresensi

Keinginan itu pasti terwujud, entah 1 tahun, 2 tahun hingga puluhan tahun kemudian. Bersabarlah #cumanmasalahwaktu

Blog Prita

Campuran kenangan, buah pikir, dan hari-hari

Al Ustadz Achmad Rofi'i Asy Syirbuni

Blog resmi Al Ustadz Achmad Rofi'i Asy Syirbuni

feriyadiramen

やってみる  Ayo coba!

Mubarok01's Weblog

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

KAVKAZ CLOTHING

It's not about fashion or necessity, its Identity!

akh ardhi

sebuah catatan nurani...

Blog Pribadi Agus Supriyadi

"ana hanyalah setitik embun dijalan da'wah"

Aria Turns

Ada yang mau baca blog mengenai matematika, gak ya...??

Nabih Ibrahim Bawazir

Just another WordPress.com site

Dunia Matematika

Ternyata Matematika itu Mudah!