Anak Ubi VS Anak Burger

Image

Ubi VS Burger disini tak jauh berbeda dengan arti singkong vs keju yang biasa orang ceritakan. Tapi jika diartikan dengan seksama, maka kita akan mendapati arti bahwa anak Ubi tak selamanya anak kampung atau anak miskin, dan anak Burger tak semuanya anak Kota atau anak Kaya. Di zaman sekarang ini, anak Ubi bertebaran di kota-kota, anak Burger pun kian marak di kampung-kampung.

Anak Ubi. Ubi, ya begitulah Ubi, makanan yang terkesan begitu sederhana. Makanan yang biasa di makan oleh Anak-anak kampung dan anak-anak sederhana. Anak Ubi ini bertebaran di mana-mana, anak Ubi terlahir dari keluarga yang sederhana, maka tak salah jika dalam kehidupannya dihiasi dengan berbagai masalah yang begitu pelik dan penuh cerita. Kerasnya hidup anak Ubi memang mengundang perhatian bagi kita sesama insan ciptaan-Nya.

Anak Burger. Burger, makanan yang begitu istimewa, makanan yang terbuat dari bahan-bahan yang beraneka ragam dan tentu saja mahal harganya. Makanan ini biasa di makan oleh Anak-anak kota dan anak-anak dari orang tua yang berada. Anak Burger terlahir di keluarga yang begitu bahagia dengan gemerlap nikmat yang diberikan tuhannya manusia. Maka memang benar juga, kehidupan anak Burger lebih dipenuhi dengan kenikmatan dan kasih sayang.

Di berbagai tempat saya menemui anak-anak seperti itu dengan berbagai macam perbedaannya.

Jika Anak Ubi yang pernah saya temui (kira-kira berumur 6 tahun )berkata, “ Aku harus berjuang keras agar orang tuaku tidak susah terus”, maka saya juga pernah menemui Anak Burger ( dengan umur yang sama) berkata, “ Kau bidadari, jatuh dari Surga, sampai hatiku, ea ea“.

Saya pernah bertemu dengan Anak Ubi yang sepulang sekolah harus berjalan kaki berpuluh kilometer dan setelah sampai rumah mencari kayu bakar untuk keperluan memasak, sedangkan ada anak Burger sepulang sekolah menaiki kendaran nyaman dan setelah sampai rumah harus mencari-cari tempat bermain yang menyenangkan untuk mereka singgahi.

Saya pernah bertemu dengan anak ubi yang tak pernah mendapatkan uang saku untuk jajan, dan selalu meminjam buku pelajaran teman sebangkunya karena tak mampu membeli buku-buku pelajaran, sedangkan ada anak-anak burger yang dengan rakusnya menghabiskan banyak uang jajan setiap kali istirahat dan pulang sekolah.

Saya pernah bertemu dengan anak ubi yang menangis karena tidak mendapatkan ijazah karena belum lunas pembayaran sekolahnya, sedangkan ada anak burger menangis karena kelulusan dan bahagia dengan ijazah yang diterimanya.

Saya pernah bertemu dengan Anak Ubi yang sedih dan haru ketika di terima di Universitas nomor satu di negeri ini dengan dibebaskan segala biaya kuliah sampai lulus, namun tidak jadi diambil karena orang tua tak mengizinkannya dengan alasan tak sanggup membiayai kehidupan sehari-hari anaknya nanti, sedangkan ada anak burger yang begitu bangganya diterima di universitas tidak terlalu favorit namun menguras kantong orang tuanya dengan biaya kuliah yang begitu mahalnya. ( Padahal pemuda yang sudah  mempunyai umur lebih dari 20 tahun itu harusnya malu karena masih meminta uang kepada kedua orang tua nya).

Memang berbeda antara keduanya, anak Ubi dituntut untuk lebih keras menghadapi hidupnya, anak ubi harus berpikir keras untuk menghadapi setiap coba, sedangkan anak Burger lebih mudah dalam melangkah. Bak membuat makanan, anak ubi harus memikirkan bagaimana membuat makanan ubi yang sederhana itu menjadi makanan yang enak dissantap, sedangkan anak burger hanya tinggal menyantapnya. Dan kita sering mendapati bahwa anak Ubi lebih tegar dalam menjalankan kehidupannya, ia telah merasakan betapa sakitnya ditempa dengan berbagai ujian, sehingga sewaktu-waktu jika mendapat ujian lagi, anak Ubi bisa lebih arif dalam menghadapinya. Berbeda dengan anak burger yang sebelumnya dalam kemudahan, jika suatu saat ia ditempa ujian yang menyulitkan maka ia akan merasa sedih bukan main,mungkin juga ia akan merasakan putus asa yang sangat besar, karena ia belum pernah merasakan kepedihan itu sebelumnya.

Tak selamanya anak ubi adalah anak ubi dan anak burger adalah anak burger. Maka marilah sedikit belajar dengan anak ubi dan anak burger ini. Barangkali memang benar bahwa semuanya butuh perjuangan, jangan biarkan anak-anak kita menjadi anak yang tak pernah ditempa, jangan biarkan anak-anak menjadi manja dan malas berusaha. Bukankah nikmatnya perjuangan adalah karena tetes peluh keringat kita sendiri. Ajarkan kepada mereka betapa nikmatnya sebuah perjuangan, betapa sakitnya dalam penderitaan, dan betapa bahagianya menghadapi sebuah kemenangan.

Advertisements

About cawah
Seorang pemuda yang senantiasa terus berjuang dan berjuang, berharap dan terus berharap...berjuang dan mengharapkan kebaikan.

59 Responses to Anak Ubi VS Anak Burger

  1. tipongtuktuk says:

    mari kita menempa diri juga … he he he …

  2. tipongtuktuk says:

    pertamax … he he he …

  3. haha klo ada anak kampungku pulang dari kota n gak bisa balik pake bahasa jawa, pasti dikatain keloloden roti/burger

  4. nengwie says:

    Kalau disini mah, Ubi itu jauuh lebih mahal daripada Burger hehehe

    Kang Hendra, perlu palu besar buat menempa diri? 😀

  5. ayanapunya says:

    Ku suka meringis klo dengar lagu koboy junior itu. Eh bener kan itu lagu mereka?

  6. thetrueideas says:

    aku sih anak singkong, piye mas? 😛

  7. jadi kangen ubi cilembu …..

  8. duniamuya says:

    Mak jlab!jleb!manteb!

  9. Novi Kurnia says:

    Ortu sangat mempengaruhi kali, ya. Ada anak kenalan ibuku yang sangat dimanja, umur 17 tahun terkena stroke karena kebanyakan makan fast food dan menjadi obesitas. Burger fast food kan?

    Untung, dari dulu enggak pernah suka burger. Sukanya masakan Indonesia yang penuh selera dan warna =D

  10. nengwie says:

    Ada lagu jadul banget “aku suka singkong..kau suka keju…” 😀

  11. duniamuya says:

    Saya g pinter menggambarkan yang bagus mas cawah. Sampean aja. Pasti lebih keren. Ubi madu vs ph. Hahaha. Sama2 mahalll..

  12. tranparamole says:

    Permisi..warga baru..

  13. faziazen says:

    banyak anak ubi yg akhirnya sukses, kayak bapak CT yg punya tv itu looh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Prof.Dr.H.heppy setya prima S.pt.m.sc

A topnotch WordPress.com site

Kehadiran Anda Sebuah Kehormatan Bagi Saya

Menebar Inspirasi, Membangun Peradaban

안녕하세요~~~

Mari berbagi lewat tulisan^^

Ketika Kata Mengikat Makna

Merangkai kata, mencari keindahan hakikat makna...

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

fluoresensi

Keinginan itu pasti terwujud, entah 1 tahun, 2 tahun hingga puluhan tahun kemudian. Bersabarlah #cumanmasalahwaktu

Blog Prita

Campuran kenangan, buah pikir, dan hari-hari

Al Ustadz Achmad Rofi'i Asy Syirbuni

Blog resmi Al Ustadz Achmad Rofi'i Asy Syirbuni

feriyadiramen

やってみる  Ayo coba!

Mubarok01's Weblog

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

KAVKAZ CLOTHING

It's not about fashion or necessity, its Identity!

akh ardhi

sebuah catatan nurani...

Blog Pribadi Agus Supriyadi

"ana hanyalah setitik embun dijalan da'wah"

Aria Turns

Ada yang mau baca blog mengenai matematika, gak ya...??

Nabih Ibrahim Bawazir

Just another WordPress.com site

Dunia Matematika

Ternyata Matematika itu Mudah!

%d bloggers like this: